Respon Yayasan Al-Hamidiyah Bangkalan dalam Polemik Industrialisasi Madura: Menolak ataukah Meng-Amini ?

BANGKALAN, 4 September 2026, Ungkapjatim.com – Polemik mengenai rencana industrialisasi di Madura dalam beberapa hari terakhir memunculkan beragam respons dari masyarakat. Perdebatan semakin mengemuka setelah adanya penandatanganan kesepakatan terkait industrialisasi antara Pemerintah Kabupaten Bangkalan dan pihak terkait.

Di tengah perdebatan tersebut, Yayasan Al-Hamidiyah Bangkalan memilih mengambil sikap tidak terburu-buru dalam menentukan posisi. Hal itu disampaikan Ketua Yayasan Al-Hamidiyah Bangkalan, Prof. Dr. KH Abdullah Dahlawi Zakrazy, dalam acara stadium general yang berlangsung di Auditorium Al-Hamidiyah, Bangkalan.

Kiai yang akrab disapa Murabbi oleh para santrinya tersebut mengatakan bahwa Al-Hamidiyah tidak secara spontan mengambil posisi menerima ataupun menolak industrialisasi di Madura.
“Dalam industrialisasi di Madura, Al-Hamidiyah tidak memilih menerima atau menolak secara langsung,” ujar Kiai Dahlawi.
Menurutnya, perkembangan industrialisasi perlu dilihat secara lebih komprehensif, terutama dari dampaknya terhadap kehidupan masyarakat Madura. Kehadiran industri, kata dia, semestinya tidak berhenti pada aspek pembangunan ekonomi, tetapi juga harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat setempat.

Sikap tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya keterbukaan dalam menghadapi perubahan. Kiai Dahlawi mengingatkan mahasiswa agar tidak bersikap kaku dalam merespons berbagai perkembangan yang terjadi di tengah masyarakat.
“Kita harus fleksibel,” tegasnya.

Namun, fleksibilitas tersebut bukan berarti menerima setiap perubahan tanpa pertimbangan. Menurut Kiai Dahlawi, industrialisasi harus dibarengi dengan kesiapan sumber daya manusia (SDM) yang memadai. Masyarakat Madura perlu mempersiapkan kapasitas dan kompetensi agar tidak hanya menjadi penonton ketika industri berkembang di wilayahnya sendiri.
Dalam konteks tersebut, mahasiswa dinilai memiliki posisi strategis. Mereka dipandang sebagai bagian dari generasi yang nantinya akan menghadapi sekaligus menentukan arah perubahan Madura.
“Kalian-kalian ini nantinya yang akan berperan,” pesan Kiai Dahlawi kepada para peserta stadium general.

Pernyataan tersebut menempatkan persoalan industrialisasi Madura tidak semata-mata dalam kerangka menerima atau menolak. Ada persoalan yang lebih mendasar, yakni bagaimana masyarakat mempersiapkan diri menghadapi perubahan serta memastikan agar pembangunan industri benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat lokal.

Sebagai salah satu lembaga pendidikan yang memiliki pengaruh cukup kuat di wilayah timur Bangkalan, Al-Hamidiyah memiliki posisi strategis dalam membentuk cara pandang generasi muda terhadap berbagai perubahan sosial dan ekonomi di Madura. Keberadaan perguruan tinggi di lingkungan Al-Hamidiyah dengan alumni yang telah tersebar di berbagai daerah juga menjadi bagian dari kekuatan akademik dan sosial lembaga tersebut.

Dengan demikian, sikap Al-Hamidiyah yang memilih untuk tidak terburu-buru menyatakan penolakan maupun penerimaan dapat dibaca sebagai ajakan untuk melihat industrialisasi secara lebih kritis dan proporsional. Perubahan tetap perlu dihadapi secara terbuka, tetapi harus disertai kesiapan SDM dan perhatian terhadap kepentingan masyarakat Madura.

Pesan tersebut disampaikan Kiai Dahlawi dalam acara stadium general yang digelar di Gedung Kiai Imam Zarkasyi, Sekolah Tinggi Agama Islam Bangkalan (STAMIDIYA), Bangkalan, Jumat (4/9/2026).

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *